Gangguan stabilitas gara-gara puasa

4 Aug 2011

Di negeri indah permai makmur, hanya gara-gara puasa terjadi kekacauan yang luar biasa. Awalnya para penghuni sangat senang tinggal di negeri hebat berpulau-pulau ini, tapi kemudian kehebatan mulai terusik gara-gara puasa. Tidak salah, ekuilibria yang semua sempurna di titik harmonis, tiba-tiba liar bergerak kesana-kemari, gara-gara puasa.

Semula di republik tenteram ini koruptor tenteram saja mengeruk uang dari mana saja. Dari apbn bisa saja seorang juru duit partey membuat atau membeli banyak perusahaan untuk jadi anemer di berbagai kementrian. Meski sekedar calo belaka, perusahaan milik juru duit partey besar itu tetap sah dan legal menghasilkan keuntungan. Ingat; sah dan legal. Bahwa kemudian banyak bagian duit-duit itu disumbangkan kembali ke partey-nya maka sah-sah saja. Tapi kemudian ada banyak suara yang menunjuk bahwa beliau salah prosedur, maka blio tenteram saja kabur dan berhalo-halo dari tempat kaburnya dengan tenteram. Nah, ketenteraman ini terganggu gara-gara puasa. TUHAN yang maha kuasa dan tidak tebang pilih menebar kasih, menggelontorkan kesadaran ke tukang duit partey yang lagi puasa. Tukang duit ini tersadar dan mengganggu ketentaraman koruptor lain gara-gara puasa yang memberinya keikhlasan untuk pulang kampung dan memberikan diri untuk diproses Kelompok Penghancur Korosimoral.

Gara-gara puasa, belasan, mungkin puluhan yang sering cari duit dengan aneka cara tidak lurus, sama-sama menyerahkan diri disertai bukti dan uang tunai yang disetor kembali. Sampai-sampai gedung besar tempat lapor itu ditutup duit beneran. Dulu-dulunya paling duit sedus atau dua dus mi instan yang jadi barang bukti, kali ini ruang sebesar pabrik mi instan pun tidak mampu menampung duit barang bukti. Tentu ketentraman sangat terganggu gara-gara puasa.

Gara-gara puasa pula, media lebih santun membuka borok dan aib orang, sehingga kenyamanan menertawakan luka cacat orang lain jadi terganggu gara-gara puasa. Gara-gara puasa media menjadi sangat berusaha berdiri di tengah dan hanya mewartakan, bukan berpihak dan mengarahkan. Kenikmatan dibentuk dan diarahkan opini oleh media jadi terganggu, tidak lagi selancar dan segemilang saat para redaktur sepakat dengan pemegang modal untuk hanya menjual saja. Kini para redaktur itu mulai menambah kegiatan, selain menjual juga membagi.

Gara-gara puasa para pesohor politik, jadi lebih setuju diam adalah emas. Politikus yang biasanya ngobral bunyi asal bahkan rada-rada bernada makian, kini lebih banyak diam dan merenungkan kebesaranNYA. Dengan demikian kenikmatan nonton panggung parlemen yang selalu riuh rendah dan seru jadi terganggu. Pesohor-pesohor itu nampil dengan smileful dan tutur kata lembut, tidak garang menunjuk-nunjuk seperti biasanya. Konon karena mereka pada puasa jadi tenggelam juga dalam rahmatNYA yang kemudian mengendalikan perilaku garang tadi jadi lembut memikat.

Untunglah, kekacauan ini tidak berlangsung lama. Ketentaraman nampaknya kembali terjadi setelah saya dibangunkan dengan sikut kawan di jidat ini ditambah bisik omelan: “kalo mau tidur, dirumah saja jangan pura-pura itikaf… ngganggu saja, ngorok pulak!”


TAGS


-

Author

Follow Me